Testimoni Asisten oleh Christian Hadiwinoto 13507081

May 18, 2009

Tanggal wawancara: 14 Mei 2009

Wawancara #1

Nama asisten : Halim Munawar
Panggilan : Halim
NIM : 13505106
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Cianjur, 27 Juli 1987
Posisi : koordinator asisten lab Rekayasa Perangkat Lunak
Testimoni:

Dari mantan kadiv himpunan jadi koordas lab. Inilah yang menggambarkan koordas RPL ini. Awalnya, Kak Halim tidak terpikir akan menjadi koordinator asisten di lab RPL. Memang ia sering ditunjuk menjadi pemimpin oleh rekan-rekannya (katanya “ditumbalkan”). Sebenarnya kurang tepat dikatakan “tumbal” karena Kak Halim jelas-jelas berjiwa pemimpin. Mulai dari Wakil Ketua Angkatan 2005, sampai Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat di HMIF, meskipun di tahun pertama menjadi anggota Divisi Kekeluargaan (Divkel). Ketika memilih lab pada akhir tingkat kedua di Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, ia awalnya tertarik untuk masuk lab Basis Data, akan tetapi kemudian berubah pikiran untuk masuk lab RPL.

Kak Halim sangat merasakan manfaat menjadi asisten lab, baik secara profesionalisme di bidang RPL maupun soft-skill.Manfaat masuk lab yang ia rasakan dari segi soft skill adalah terutama dalam aspek komunikasi, yang membuatnya merasa lebih percaya diri ketika berhadapan dengan orang lain, seperti ketika kerja praktek (KP), meskipun menurutnya, kuliah proyek perangkat lunak (PPL) juga signifikan untuk kelancaran KP. Lalun, bagaimana dengan teman-teman Kak Halim yang tidak lolos seleksi? Ternyata Halim tergolong peka. Ia mengaku merasa tidak enak melihat teman-temannya yang juga mendaftar lab tidak lulus seleksi.

Mahasiswa tingkat akhir ini rupanya memiliki kecintaan terhadap lingkungan hidup sejak kecil. Ia mengambil bioinformatika sebagai topik tugas akhir (TA). Ini sesuai dengan latar belakang keluarganya yang agraris perkebunan dan cita-cita sejak masa kecilnya ingin menjadi pengusaha perkebunan holtikultura organik. Lah, kok jadi IF? Ternyata, sebagai pelajar SMA dulu, ada mindset bahwa bidang kerja terkait komputer luas. Ia memiliki perencanaan bahwa sebelum mewujudkan impiannya (menjadi pengusaha di bidang perkebunan), harus mengumpulkan berbagai modal, mulai dari ilmu, uang, hingga relasi (orang/SDM) selama empat puluh tahun ke depannya. Inilah yang menarik minatnya masuk IF ITB, meskipun awalnya kaget dengan programming karena belum pernah belajar programming di SMA (maklum tidak seperti SMA sekarang yang kurikulumnya sudah canggih). Ngomong-ngomong, kita 2007 kan banyak yang dapat tugas akhir semester Kesling. Jadi, boleh kan kalau mau minta pendapat? Lumayan, buat masuk video. Hehe

Tanda tangan: Tanda tangan Halim Munawar

Wawancara #2

Nama asisten : Deddy Wahyudi
Panggilan : Deddy
NIM : 13505031
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 23 Desember 1987
Posisi : asisten lab Basis Data
Testimoni:

Jujur bahwa penulis merasa cukup sedih mendengar cerita asisten lab Basis Data dari angkatan 2005 ini. Salah satu alasan Kak Deddy memilih Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung adalah konstrain buta warna bawaannya. Selain itu, kegemarannya bermain game RPG, FPS, dan RTS juga mendorongnya masuk IF di ITB, meskipun awalnya ia mendaftar di dua perguruan tinggi swasta lain, yang ia batalkan sebelum masuk ITB.

Ketika mendaftar sebaga asisten lab Basis Data, motivasi Kak Deddy adalah “harus punya lab” dan kebetulan ia tertarik ke bidang data mining, selain juga karena adanya rekan di divisinya di HMIF (Divisi Keprofesian) sekaligus di unit KMB yang asisten lab Basis Data. Katanya dulu, masuk lab Basis Data itu mudah tugas-tugas prasyarat lebih ringan, tidak banyak; yang mendaftar juga lebih sedikit dari tahun ini (2009), meskipun ia merasa gugup saat wawancara. Kak Deddy merasakan manfaat yang cukup besar menjadi asisten di lab Basis Data. Antara lain, jadi tahu strategi mendapatkan outcome semaksimum mungkin dari effort yang seminimum mungkin, sebagai contoh: apa saja yang dititikberatkan pada penilaian laporan/dokumen tugas dan apa yang dicari oleh dosen penguji. Sayangnya, ketika kerja praktek (KP), bidang kerjanya tidak berkaitan bidang basis data karena lebih banyak masalah jaringan. Ia memilih perusahaan itu untuk KP agar dekat dengan rumahnya di Jakarta, meskipun ada privilege bagi asisten Basis Data untuk KP di Divusi di bawah Bapak Adi Mulyanto, dosen lab Basis Data.

Di samping keuntungan yang didapat dengan menjadi asisten Basis Data, konstrain harus mengambil tugas akhir di bidang basis data menjadi tantangan tersendiri. TA di bidang ini ada tantangan besar dalam analisis, yang sangat memakan waktu, di samping dosen-dosen di lab Basis Data yang relatif tak mudah ditemui. Wah, apa harus menyesal memilih lab Basis Data? TIDAK, karena menurut Kak Deddy, setelah lewat dari tahapan analisis, langsung dapat dilanjutkan dengan prasidang dan sidang. Proses coding dalam TA di lab Basis Data relatif kecil porsinya dibandingkan dengan TA di lab lain. Kebetulan, Kak Deddy memang lebih tertarik pada analisis. Ya, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Tanda tangan: Tanda tangan Deddy Wahyudi

Tanggal wawancara: 15 Mei 2009

Wawancara #3

Nama asisten : David Samuel
Panggilan : David a.k.a. Davsam
NIM : 13506081
Jalur pilihan : Informatika/Sains Komputer
Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 19 Februari 1988
Posisi : asisten lab Basis Data
Testimoni:

Penulis sulit percaya peraih predikat mahasiswa berprestasi dari prodi Teknik Informatika, sekaligus anggota tim pemenang Microsoft Imangine Cup 2008 di Indonesia ini dulunya masuk prodi Teknik Informatika karena salah ditempatkan. Hingga saking “pundung”-nya, begitu kata Kak David, ia memutuskan tidak menjadi anggota biasa HMIF.

Salah jurusan pun terbukti tidak menyurutkan pencapaian (achievement) Kak David. Ia mengatakan bahwa akhirnya ia dapat berpikir, sudahlah, toh bidang yang gagal dimasukinya itu dapat dipelajari sendiri, sekarang sudah masuk Teknik Informatika, ya harus beradaptasi. Dalam perjalanan studinya, Kak David mengakui bahwa awalnya ia sangat menekankan pencapaian akademik (baca: nilai bagus), tetapi kemudian ia berpikir untuk apa sekadar mendapat nilai A tanpa mencari nilai plus untuk pengembangan diri. Nilai plus inilah yang didapatkannya dengan berpartisipasi dalam Imagine Cup.

Untuk masalah kemampuan, Kak David mengakui lebih cenderung ingin membuat usaha sendiri. Ini sesuai dengan kepribadian kemampuannya, yang menurutnya cenderung general ketimbang spesifik. Akan tetapi, ia lebih suka melanjutkan studi ke S2 terlebih dahulu jika feasible secara pembiayaan, meski ia tidak berminat mengambil jalur cepat (fast track), yang ditawarkan oleh ITB, karena merasa akan berat saat membuat tugas akhir.

Tanda tangan: Tanda tangan David Samuel

Tanggal wawancara: 17 Mei 2009

Wawancara #4

Nama asisten : Hendro
Panggilan : Hendro
NIM : 13505103
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Pekanbaru, 1 Juni 1988
Posisi : asisten lab Basis Data
Testimoni:

Penulis belum pernah bertemu secara langsung dengan Kak Hendro. Namun, dari pembicaraan melalui instant messenger dari Korea Selatan, terlihat bahwa ia termasuk orang yang terbuka dan ramah terhadap orang lain.

Kak Hendro memang jelas berpotensi, berinisiatif, dan berani mengambil peluang. Hal ini dapat penulis katakan berdasarkan penuturannya yang mengatakan bahwa dirinya sudah mengambil kuliah tingkat ketiga (Pemrograman Internet) di tingkat kedua. Sejak mengambil kuliah inilah Kak Hendro menjadi tertarik kepada bidang Basis Data dan mendorongnya mendaftar menjadi asisten di lab Basis Data. Selain itu, ia juga mengambil kesempatan pertukaran pelajar di Daejeon University, jurusan IT. Ia tetap menjalani program pertukaran tersebut meski harus menangguhkan tugas akhirnya yang bertopik datawarehouse, di samping beban kuliah yang lebih berat yang harus dijalaninya di Daejeon, yakni minimal 24 SKS per semester, sementara beban satu SKS di Daejeon sama dengan di ITB.

Inisiatif Kak Hendro jugalah yang membuatnya selalu dikenang oleh rekan-rekan asisten di lab Basis Data. Ia selalu dikenang karena menghidupkan kembali kantin lab Basis Data, yang dulu sempat ada kemudian tidak berjalan, dan sekarang kembali tak berjalan sepeninggal Kak Hendro. Selain inisiatifnya itu, ia juga berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa untuk menikmati hidup dan tidak terlalu terfokus pada kuliah (maksudnya, memperhatikan keseimbangan – red).

Catatan: Karena dilakukan secara telewawancara, penulis tidak mendapatkan tanda tangan langsung Hendro.

Tanggal wawancara: 19 Mei 2009

Wawancara #5

Nama asisten : Joelian Samuel (Simamora)
Panggilan : Joel
NIM : 13505093
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 30 September 1987
Posisi : koordinator asisten Lab Basis Data

Testimoni:

Nama Joelian Samuel mungkin sudah tak asing lagi bagi massa HMIF. Koordinator asisten Laboratiorium Basis Data periode 2008 – 2009 ini juga duduk di DPP HMIF di periode yang sama (sebelumnya tergabung dalam Divisi Hublu). Penulis sendiri lebih dahulu mengenalnya sebagai anggota DPP HMIF wakil angkatan 2005 yang pemikirannya tergolong kritis. Tak dapat lepas dari ingatan penulis, komentarnya terkait Arkavidia dalam mailing list HMIF yang berbunyi, “…, saya secara pribadi, sebagai anggota DPP HMIF 2008/2009, meminta maaf sebesar-besarnya kepada massa, telah meloloskan proker yang bukan kemauan massa himpunan.”

Koordinator asisten Laboratorium Basis Data ini mengaku bahwa dulu ketika masuk Teknik Informatika ITB tidak paham betul apa itu informatika. Akibatnya ia rasakan ketika mendapat mata kuliah Struktur Data di tahun kedua. Menurutnya, tugas besar pertamanya dirasakan sangat berat. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai lebih terbiasa karena semakin memahami pembelajaran di informatika. Ia juga menyebut istilahnya “tahan deadline” atau “deadline-proof“, yakni kebal terhadap beban tugas-tugas dengan deadline bertumpuk.

Kak Joel tertarik masuk Laboratorium Basis Data karena ada kenalan asisten Basis Data dari angkatan 2003. Ia mengatakan bahwa baginya lebih enak jika ada kenalan di lab tersebut. Meskipun demikian, ia mengatakan tidak harus ada “koneksi” untuk dapat masuk lab Basis Data. Sebagai koordinator asisten, Kak Joel mengakui mendapat pembelajaran soft-skill dalam hal kepemimpinan. Sementara itu, Kak Joel juga nampak berjiwa petualang; ini terlihat dari KP yang diambilnya di Freeport, Papua, di bagian accounting. Di tahun (yang diharapkannya) terakhir di S1 IF ITB, di samping menyelesaikan tugas akhirnya yang bertopik Basis Data Nonrelasional, Kak Joel terlibat dalam kegiatan-kegiatan luar seperti proyek yang dirahasiakannya. Sementara SKS yang diambilnya tinggal berjumlah 13 SKS.

Untuk karir, Kak Joel bercita-cita untuk dapat bekerja di bidang IT di perusahaan mana pun, dan jika sudah ada cukup peluang dan pengalaman, ia bertekad membuat software house sendiri. Sementara untuk studi lanjutan, ia lebih memilih meneruskan S2 di luar negeri, misalnya di Eropa atau di Australia. Baik, Kak, sukses ya!

Tanda tangan: tanda tangan Joelian Samuel

Tanggal wawancara: 20 Mei 2009

(Hari Kebangkitan Nasional)

Wawancara #6

Nama asisten : Shieny Aprilia
Panggilan : Shieny
NIM : 13505089
Jalur pilihan : Informatika/Sains Komputer
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 27 April 1987
Posisi : koordinator asisten lab Programming

Testimoni:

Koordinator asisten lab Programming ini memang nampak sudah menemukan minatnya pada dunia informatika sejak duduk di bangku SMA. Kebetulan, waktu itu di sekolahnya diajarkan pemrograman dengan VB6 (belum OO murni seperti VB.NET), yang salah satu tugasnya adalah membuat kalkulator sederhana. Minat inilah yang juga mendorongnya masuk Teknik Informatika ITB.

Kak Shieny ketika aktif di HMIF menjadi anggota Divisi Kekeluargaan pada tahun pertamanya, kemudian melanjutkan pada tahun kedua ke Divisi Keprofesian Subdivisi IT Development and Innovation. Septuar pengalaman KP di Mitrais, salah satu software house di Bali, Kak Shieny mengakui kompleksnya tahap spesifikasi requirement, analisis, dan desain untuk sebuah proyek perangkat lunak, sehingga ketiga proses ini dapat menjadi lama dibandingkan saat implementasi (coding). Meskipun mengatakan bahwa KP yang dijalaninya tidak ada hubungannya secara langsung dengan menjadi asisten, Kak Shieny merasakan manfaat dari menjadi asisten dalam aspek soft-skill pengalaman berorganisasi dan keterampilan hard-skill di bidang pemrograman. Manfaat lain menjadi asisten, menurutnya, adalah dapat menjadi lebih kenal dengan para dosen.

Saat ini, selain menyelesaikan tugas akhirnya, yaitu membuat game engine dalam platform C#, Kak Shieny masih terlibat dalam kegiatan lab Programming, salah satunya menjadi asisten mata kuliah semester IV, IF2032 Pemrograman Berorientasi Objek. Kebetulan, kelompok penulis juga sedang berada dalam bimbingannya di tugas besar II (Java). Sehubungan dengan tugas akhirnya yang berbasis C#, Kak Shieny sendiri mengakui sedikit lupa mengenai Java, sehingga mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan tentang detail-detail teknis.

Kepada angkatan 2007 yang mendaftar menjadi asisten (tak terbatas pada Lab Programming), Koordinator Asisten Lab Programming ini berpesan agar tetap semangat dalam seleksi calon asisten, khususnya di masa UAS dan tugas besar seperti sekarang ini.

Tanda Tangan: tanda tangan Shieny Aprilia

Wawancara #7

Nama asisten : Ibnu Mas’ud
Panggilan : Ibnu / Mas’ud
NIM : 13506034
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Ciamis, 18 Juni 1988
Posisi : asisten Lab Basis Data

Testimoni:

Awalnya, Kak Mas’ud ingin masuk jurusan Kedokteran, tetapi seperti kebanyakan orang yang “kecelakaan” masuk IF ITB, ia menempatkan Kedokteran di pilihan kedua dengan alasan passing grade IF lebih tinggi. Namun, ia tidak merasakan penyesalan telah masuk Teknik Informatika. Belum lagi mendengar pengalaman saudaranya yang bekerja sebagai database administrator di Brunei Darussalam dan bergaji (jika dalam rupiah) Rp 70 juta.

Pengalaman saudaranya itulah yang juga menarik minat Kak Ibnu Mas’ud menjadi asisten di Laboratorium Basis Data. Selain itu, bidang Basis Data juga dinilainya lebih terarah dan jelas. Selain tertarik dengan prospek karir yang menjanjikan di bidang Basis Data, Kak Ibnu Mas’ud juga merasa senang dapat menjadi asisten Lab Basis Data karena banyak dosen yang dinilainya “asyik”. Di sisi lain, ia sedikit mengeluhkan jadwal praktikum IF2034 Basis Data untuk angkatan 2007 yang menurutnya “kepagian”, dimulai 07.00. Mungkin benar, karena Kak Ibnu Mas’ud sendiri mengakui bahwa hobinya adalah tidur. Jadi, ada hubungannya.

Saat ini, mahasiswa yang tinggal di rumah bersama orang tuanya di Kompleks Cipadung Permai (bagian timur Bandung) ini memegang posisi sebagai administrator komputer baru di Laboratorium Basis Data. Selain itu, ia juga sedang mempersiapkan KP-nya di Chevron, yang akan dijalaninya pada semester pendek mendatang. Pilihannya di Chevron, ia mengatakan, karena ada kerabat di sana.

Sementara belum memikirkan tugas akhir, Kak Ibnu Mas’ud merasakan manfaat menjadi asisten, yaitu fasilitas untuk mengeksplorasi tugas akhir di Laboratorium Basis Data. Mengenai tugas akhir di bidang basis data, yang sering dikatakan tidak mudah, bahkan membuat kelulusan tertunda, Kak Ibnu Mas’ud mengatakan itu sebenarnya nilai plus karena adanya analisis yang lengkap. Sementara itu, Kak Ibnu Mas’ud juga nampak sebagai seorang berjiwa naturalis. Hal ini terlihat dari cita-cita besarnya, atau ultimate goal, mendirikan peternakan sapi. Sementara ini, ia tidak berniat melanjutkan ke S2 (S2, menurutnya, hanya jika perlu). Setelah lulus, ia ingin langsung bekerja, sedapat mungkin tak jauh-jauh dari bidang basis data. Apakah ini karena angka Rp 70 juta yang didengarnya? Tidak juga, karena ekonomi mapan ditempatkannya dalam skala prioritas kelima.

Mengenai seleksi calon asisten Laboratorium Basis Data, asisten yang menggemari musik jazz ini mengatakan tidak perlu kecewa jika tidak diterima, sebab mahasiswa selain asisten masih diperbolehkan main-main ke Laboratorium Basis Data.

Tanda Tangan: tanda tangan Ibnu Mas'ud

Wawancara #8

Nama asisten : Alsasian Atmopawiro
Panggilan : Alsa
NIM : 13505074
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Strasbourg, Perancis, 15 Juli 1987
Posisi : asisten Lab Basis Data

Testimoni:

Sebagaimana mahasiswa yang merasa “kecelakaan” masuk Teknik Informatika ITB, Kak Alsa menempatkan pilihan sebenarnya di pilihan kedua dengan alasan passing grade di Teknik Informatika ITB lebih tinggi. Pilihannya sebenarnya adalah Teknik Sipil. Namun, ia tidak menyesal karena dulu telah mendapatkan materi programming dalam kurikulum pengajaran komputer di sekolahnya.

Pemikiran Kak Alsa boleh dikatakan simpel. Ketika ditanyakan mengenai alasan memilih Laboratorium Basis Data, jawabannya simpel, karena ia ingin menjadi asisten dan karena masuk Laboratorium Basis Data dinilainya relatif mudah. namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan bahwa untuk dapat bereksplorasi selagi menjadi asisten itu tidak semudah yang sebelumnya (sebelum menjadi asisten) dibayangkan. Selain itu, ia mengatakan harus memeriksa tugas-tugas kuliah yang banyak jumlahnya. Di samping itu, ia merasa mendapatkan manfaat dengan menjadi asisten karena menjadi dekat dengan yang asisten lain dan peserta kuliah yang dibimbingnya.

KP telah dijalani di Sigma Cipta Caraka (cabang sementara BaliCamp di Serpong pascapeledakan Bom Bali II) oleh Kak Alsa. Saat itu ia menjadi outsource programmer untuk mengerjakan tugas-tugas berbasis proyek, sehingga tidak terlalu ada kaitan dengan bidang basis data.

Saat ini, kesibukan mantan Ketua Divisi Media HMIF yang bertempat tinggal di Kompleks Cimindi Raya, Cimahi ini adalah terutama menyelesaikan tugas akhirnya membuat aplikasi data modelling, yang melibatkan transformasi dari model E-R ke model relasional, kemudian ke kelas Java.

Setelah lulus S1 nanti, penggemar musik easy listening ini lebih memilih untuk bekerja ketimbang meneruskan studi ke S2. Kriteria pekerjaan ideal yang terpenting menurutnya adalah dapat bekerja dengan senang.

Pesannya kepada angkatan 2007 yang sedang sibuk mengikuti seleksi calon asisten adalah “Maju terus”, sesuai motto pribadinya. Selain itu, ia juga berpesan agar seleksi calon asisten ini tidak dianggap sebagai beban.

Catatan: Penulis juga kenal dengan adik dari Alsasian Atmopawiro, yakni Lestian Atmopawiro, yang juga kuliah di ITB, tepatnya di Program Studi Teknik Tenaga Listrik (Elektro) angkatan 2007.

Tanda Tangan: tanda tangan Alsasian Atmopawiro

Tanggal wawancara: 25 Mei 2009

Wawancara #9

Nama asisten : Catur Wirawan Wijiutomo
Panggilan : Catur
NIM : 13505020
Jalur pilihan : Informatika/Sains Komputer
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 10 April 1987
Posisi : koordinator administrator jaringan IF

Testimoni:

Administrator jaringan untuk Informatika, lebih tepatnya di Labtek V (Gedung Benny Subianto) ini sudah memiliki ketertarikan menjadi administrator jaringan sejak rekrutmen asisten/administrator pada tingkat kedua kuliah di Teknik Informatika ITB. Ia mengatakan bahwa dulu ia tidak mendaftar ke lab untuk menjadi calon asisten sebab lebih tertarik menjadi administrator jaringan. Katanya, ia merasa kurang cocok untuk menjadi asisten.

Kak Catur, demikian administrator jaringan dari IF angkatan 2005 ini dipanggil, merasakan masa transisi HMIF ketika angkatannya masuk himpunan. Hal ini disebabkan
oleh rencana (pada waktu itu masih rencana) penggabungan penerimaan mahasiswa TPB dalam satu fakultas/sekolah, sehingga kepengurusan akan mengalami kekosongan ketika angkatan berikutnya (2006) memulai perkuliahan di ITB. Adapun ketika masih aktif di HMIF dulu, Kak Catur tergabung dalam Biro Marketing, yang sekarang sudah beralih nama menjadi Biro Ekonomi (lebih populer disebut Birex). Pada tahun kedua, ia sendiri menjabat ketua divisi ini.

Kepribadian Kak Catur boleh dikatakan tegas dan kritis. Di HMIF sendiri, namanya menjadi populer oleh komentar-komenternya di mailing list, yang terdengar “menggertak” tetapi bertujuan menyadarkan massa HMIF terhadap permasalahan yang ada di HMIF. Penulis masih ingat bagaimana komentarnya saat pengumpulan sponsor Arkavidia, juga saat terjadi insiden styrofoam di sekretariat II.

Menjadi administrator, memberikan manfaat positif baginya, selain suasana kerja yang nyaman, ia menjadi terbiasa dengan sistem ber-platform UNIX yang banyak digunakan dalam jaringan komputer. Secara tidak langsung, keterbiasaan ini memberikannya kemudahan saat kerja praktek di Astra Credit Company, Jakarta, ketika ia harus berhadapan dengan tugas merancang sistem monitoring yang berhubungan jaringan. Katanya, sistem yang digunakan berbasis pada UNIX dan Solaris. Nah, karena sudah terbiasa dengan kedua sistem tersebut selama menjadi administrator, pekerjaan pun dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Untuk tugas akhir pun, Kak Catur memilih topik seputar Linux Embedded untuk aplikasi keamanan. Meskipun menurutnya tidak ada kaitan dengan menjadi administrator di IF, atau lebih tepatnya STEI (karena duktek dan administrator bertanggung jawab pada fakultas/sekolah bukan prodi), tetapi ia mengakui memilih topik tersebut karena sudah biasa dengan sistem UNIX seperti Linux.

Mengenai masa depan, Kak Catur lebih memilih untuk bekerja dulu ketimbang melanjutkan studi (ke S2). Tujuannya adalah agar memiliki bekal pengalaman yang cukup untuk dapat terjun ke dunia pekerjaan. Untuk kelanjutan studi ke S2, ia tetap berkeinginan, khususnya untuk menambah ilmu. Menambah ilmu, bukan sekadar meningkatkan jenjang karir, sebab Kak Catur menemukan fakta bahwa jenjang karir profesional IT sulit/hampir tidak dapat meningkat; katanya hanya honor dan tingkat expert yang meningkat. Selain itu, studi ke S2 juga ia rencanakan karena salah satu keinginannya adalah menjadi dosen, sementara untuk menjadi dosen di ITB ada syarat studi minimal S2. Sambil mempersiapkan kelulusan dan masuk ke dunia karir, Kak Catur ternyata juga terlibat dalam proses wirausaha, namun tidak ke arah membuat software house, sebab menurutnya tak sederhana. Ia terlibat wirausaha untuk mencari pengalaman, katanya ini dilakukannya dengan membantu teman secara freelance.

Di samping manfaat dan kesenangan menjadi administrator, administrator yang sehari-hari tinggal di Kompleks Sekeloa, kawasan Dipati Ukur ini merasa ada tidak enaknya juga, misalnya jika ada user yang tidak paham mengenai jaringan, lalu ketika jaringan bermasalah komplain dengan tidak pengertian. Namun, itu semua bisa dilewati apabila pekerjaan dinikmati.

Tanda Tangan: tanda tangan Catur Wirawan

Wawancara #10

Nama asisten : Ivan Nugraha
Panggilan : Ivan
NIM : 13506073
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 24 Juni 1988
Posisi : asisten lab Basis Data (koord. IF2034)

Testimoni:

Mulanya, asisten lab Basis Data ini memilih Teknik Informatika ITB karena passing grade tertinggi pada masa ia memilih Teknik Informatika. Ketika diterima masuk IF ITB, Kak Ivan, demikian koordinator asisten kuliah IF2034 Basis Data ini dipanggil, menghadapi pilihan yang sulit, sebab ia telah diterima di Teknik Informatika STT Telkom, bahkan dengan beasiswa. Namun pada akhirnya, Kak Ivan lebih memilih IF ITB. Sebelumnya ia juga sempat berpikir akan masuk Fakultas Kedokteran Unpad, tetapi tidak jadi karena kurang suka menghafal. Awal masuk Teknik Informatika pun bukan awal yang menyenangkan bagi Kak Ivan. Rupanya, dulu ia berpikiran yang dipelajari di informatika itu sebatas menjalankan kakas-kakas seperti word processor, desain, dan perangkat lunak lainnya. Selain itu, Kak Ivan juga merasa blank saat berhadapan dengan paradigma pemrograman berorientasi objek di semester IV lalu.

Mantan Ketua Divisi PSDA
dan mantan kandidat Ketua HMIF 2009/2010
ini memiliki pemikiran yang bagus mengenai konsep “nerd” yang selama ini lekat
dengan mahasiswa Teknik Informatika (ITB). Menurutnya, ke-“nerd”-an ini lebih dipicu oleh kondisi lingkungan, bukan bawaan. Penyebabnya
adalah kurangnya komunikasi dengan orang lain karena terlalu sering bekerja dengan kompuer.

Kak Ivan masuk lab Basis Data saat telah menjabat Ketua Divisi PSDA di kepengurusan 2008/2009. Ia memang tertarik menjadi asisten lab karena berbagai alasan. Akhirnya, ia pun memutuskan “coba-coba” (yang akhirnya diseriuskan) untuk ikut perekrutan terbuka (open recruitment). Uniknya, ia memilih laboratorium Basis Data setelah membuat senarai (list) eliminasi lab-lab lain. Alasan utama tertarik ke lab Basis Data adalah karena di mata kuliah TI, yaitu Manajemen Industri, yang diambilnya pada semester IV, ia diajarkan bahwa pengelolaan data dalam industri sangat berharga. Alasan lain (trivia), katanya, sebenarnya ia berpikir-pikir juga untuk masuk lab IRK tetapi ia agak canggung melihat dua Ketua Divisi PSDA sebelumnya; di Lab IRK (katanaya, “Masa nanti hat-trick, tiga Ketua PSDA di IRK?”).

Ternyata, masuk lab Basis Data merupakan kenangan tersendiri bagi Kak Ivan. Persistensi (kekuatan kemauan) Kak Ivan pun terlihat dari sini. Ternyata, pada hari Jumat terakhir sebelum libur semester genap, ada deadline OOP (PBO) yang bersamaan waktunya dengan UAS, yang memaksanya tidak tidur seharian, persis satu hari sebelum deadline tugas tugas aplikasi dalam rangka seleksi calon asisten Basis Data. Alhasil, Kak Ivan pun menjadi kurang sehat dan hanya dapat mengerjakan tugas tersebut semampunya. Belum lagi, pada hari Sabtu tersebut ada kegiatan PLO bagi angkatan 2007. Akan tetapi, dengan semangatnya yang tinggi untuk mengerahkan seluruh kemampuannya, pada malam itu (Sabtu malam), ia dinyatakan secara resmi diterima sebagai asisten Basis Data.

Hal yang menyenangkan bagi Kak Ivan selama menjadi asisten lab Basis Data adalah dapat mempererat hubungan dengan teman-teman, khususnya rekan-rekan asisten Basis Data, bisa dekat dengan dosen, dan dapat mempunyai lab sendiri. Akan tetapi, ia sendiri kadang merasa lelah karena harus menjadi koordinator asisten IF2034 Basis Data. Namun, semua itu dapat diatasi jika menikmati prosesnya, demikian mahasiswa yang akan melakukan kerja praktek di Telkom ini menuturkan.

Untuk rencana masa depan, Kak Ivan sendiri masih mempertimbangkan apakah ingin melanjutkan studi terlebih dahulu atau bekerja dulu. Masing-masing sama-sama berisiko, katanya. Namun, dulu Kak Ivan pernah memiliki cita-cita menjadi dosen dan keinginan untuk bekerja di perusahaan negara agar dapat memberikan kontribusi bagi bangsa. Kak Ivan jelas memiliki semangat nasionalisme yang patut ditiru rekan-rekan Informatika. Meskipun demikian, Kak Ivan, yang menurutnya sedikit menyesal karena mengambil banyak SKS saat semester VI ini, Kak Ivan memiliki pandangan bahwa fasttrack S2 sebih baik daripada lulus S1 3,5 tahun (katanya benar ada ini).

Tanda Tangan: tanda tangan Ivan Nugraha

Tanggal wawancara: 26 Mei 2009

Wawancara #11

Nama asisten : Kristoforus Brian Al-Bahr
Panggilan : Brian
NIM : 13506093
Jalur pilihan : Informatika/Sains Komputer
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 11 Juni 1987
Posisi : asisten lab Basis Data

Testimoni:

(Tanpa bermaksud untuk membangkitkan flaming SARA) Mengenai nama belakang Kak Brian, ia sendiri tidak tahu mengapa ia dinamai demikian. Yang ia tahu, arti nama itu adalah “batu karang”, dan yang pasti ia bukan keturunan Timur Tengah.

Ketika ditanya mengenai alasannya masuk Teknik Informatika, jawabnya simpel, yaitu karena mudah; ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Meskipun demikian, tetap tidak ada penyesalan baginya telah masuk Teknik Informatika. Demikian pula saat ditanya alasan masuk lab Basis Data, jawabnya juga simpel, yaitu karena tidak tertarik kepada bidang-bidang lain selain Basis Data.

Meskipun terkesan “simpel”, ternyata Kak Brian memiliki kelebihan, yakni dalam hal perencanaan. Bahkan,
ia termasuk salah satu dari sedikit mahasiswa di tahun ketiga yang sudah dapat menyebutkan topik tugas akhir yang akan disusun. Tugas akhirnya rencananya akan di bidang temporal database (wah, bagi yang mendapat topik eksplorasi itu, coba aja tanya).

Untuk kerja prakteknya, Kak Brian akan melakukannya di Sangkuriang Studio, usaha pengembangan game yang dikelola oleh mahasiswa Informatika 2003, Okta. Meskipun demikian, Kak Brian mengaku tidak mempunyai cita-cita membuat game.

Selain jawaban yang simpel tadi, Kak Brian juga memiliki alasan lain memilih lab Basis Data, yaitu karena tingginya bayaran terhadap seorang database administrator; database juga digunakan di berbagai bidang (bahkan, katanya, di pembuatan game). Hal menyenangkan dari menjadi asisten di lab Basis Data adalah mempunyai banyak teman, kenal dosen-dosen di lab, dapat melakukan eksplorasi sendiri, dan mendapatkan pengetahuan setelah menjadi asisten kuliah. Akan tetapi, ia sedikit merasa terbebani ketika harus memeriksa tugas-tugas kuliah dan jika harus bangun pagi untuk sesi praktikum.

Selain aktif di HMIF Divisi Keprofesian Subdivisi IT Development & Innovation (kebetulan sama dengan subdivisi penulis di HMIF), Kak Brian juga aktif sebagai anggota unit radio 8EH. Di sana, perannya adalah sebagai teknisi, bukan penyiar. Katanya, lebih mirip “duktek” dan tidak ada sangkut-pautnya dengan basis data.

Ia juga mempunyai motto yang sekaligus pesan untuk angkatan 2007, khususnya yang (saat wawancara) sedang disibukkan UAS dan tugas besar serta seleksi calon asisten, yaitu, “Be yourself. Keep going!” dan “Don’t give up!”

Kak Brian cukup rajin dalam melatih kemampuan bahasa Inggris. Sebagai catatan, wawancara ini dilakukan sebagian besar dalam bahasa Inggris dalam rangka English Day di lab Basis Data saat wawancara dilakukan.

Tanda Tangan: tanda tangan Brian Al-Bahr

Wawancara #12

Nama asisten : Irma Juniati
Panggilan : Irma
NIM : 13506088
Jalur pilihan : Rekayasa Perangkat Lunak
Tempat, tanggal lahir : Medan, 27 Juni 1988
Posisi : asisten lab Basis Data

Testimoni:

Alasan Kak Irma masuk Teknik Informatika bisa dikatakan unik. Awalnya, ia lebih tertarik untuk menekuni bidang pelajaran favoritnya ketika SMA, yaitu Matematika. Namun, ia pernah disarankan untuk mencoba bidang ilmu yang lebih aplikatif, yaitu Informatika, ketimbang bidang ilmu yang benar-benar ilmu murni. Dan baginya, tidak ada masalah ketika masuk Informatika.

Mengenai alasan masuk lab Basis Data, jawabnya juga simpel, yaitu karena kurang tertarik pada bidang keahlian lain dan merasa penasaran terhadap kuliahnya (waktu itu angkatan 2006 belum mendapatkan mata kuliah Basis Data di tingkat kedua). Ia pun memutuskan mengikuti seleksi dengan alasan bahwa menjadi asisten lab adalah kesempatan sekali seumur hidup. Keingintahuannya terhadap bidang basis data ini pun terpuaskan dengan masuk menjadi asisten lab Basis Data. Namun, keinginannya yang besar untuk masuk lab Basis Data sama sekali tidak ada hubungannya dengan statusnya sebagai anggota muda HMIF. Ia sendiri tidak menjadi anggota biasa karena ketika kaderisasi (di STEI) harus mengikuti acara keluarga ke tempat kelahirannya, Medan. Selain itu, ia kurang tertarik menjadi anggota biasa himpunan dan memilih lebih aktif di unit kemahasiswaan KMB. Ia sudah merasa nyaman di dalamnya.

Proses persiapan kerja praktek yang akan dijalaninya pun sempat terkendala. Perusahaan pilihannya, Accenture, adalah perusahaan konsultan IT. Namun sementara ini, belum ada kebutuhan akan SDM dari kerja praktek karena sedang kurang proyek. Sehingga, Kak Irma pun mencari perusahaan lain dan mendapatkan perusahaan kerja praktek di NISP. Kerja praktek akan dijalaninya bersama Chandra dan Ronny (IF’06).

Untuk rencana masa depan, Kak Irma mengatakan akan mengambil tugas akhir di bidang basis data. Mengenai pilihan studi lanjutan atau bekerja, Kak Irma mengatakan lebih condong untuk bekerja dulu ketimbang melanjutkan ke S2, oleh sebab itu ia memastikan diri tidak ikut program fasttrack, yang ditawarkan ITB. Mengenai karir ideal, prinsipnya adalah sedapat mungkin di bidang informatika (IT) dan spesialisasinya di basis data; kalau bukan di bidang IT, harus yang menjanjikan prospeknya.

Hal yang menyenangkan dari menjadi asisten lab Basis data, bagi Kak Irma, adalah suasana lab Basis Data yang ramai, kenalan bertambah, mempunyai “tempat tongkrongan”, dan di lab Basis Data banyak yang menjalani tugas akhir sehingga menambah eksplorasi. Akan tetapi, Kak Irma masih merasa repot dengan memeriksa tugas, terutama diharuskan menjadi asisten kuliah PTI (banyak tugas harus diperiksa). Kak Irma sendiri mengakui bahwa dirinya tergolong melankolis (sifat yang identik dengan perfeksionisme), namun baginya itu tidak masalah. Pesannya kepada angkatan 2007: “Tetap semangat!”

Tanda Tangan: tanda tangan Irma Juniati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: